Jakarta-Suara Investigasi.Id. Persoalan permukiman kumuh di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, hingga kini masih menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat.
Kawasan padat penduduk dengan kondisi lingkungan yang sempit serta minim fasilitas sanitasi masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Wilayah yang dinilai paling padat dan masuk kategori kumuh berada di RW 03 Kelurahan Angke serta kawasan Jembatan Besi.
Kepadatan bangunan yang berhimpitan, saluran air sempit, hingga kurangnya ruang terbuka menjadi persoalan yang paling banyak dikeluhkan warga, karena kurangnya koordinasi pengurus wilayah terhadap warga setempat bagai mana cara untuk menciptakan lingkungan agar tampak sehat,rapi dan indah.
Camat Tambora, Pangestu Aji, menyebutkan bahwa kondisi permukiman di beberapa wilayah Tambora memang masih membutuhkan perhatian serius, terutama dalam penataan lingkungan dan perbaikan sanitasi.
Selain padatnya jumlah penduduk, sebagian rumah di kawasan tersebut dihuni lebih dari satu kepala keluarga dengan ukuran bangunan yang terbatas.
Kondisi itu membuat kualitas lingkungan menjadi kurang sehat dan rawan menimbulkan persoalan sosial.
Di beberapa titik, masih ditemukan warga yang belum memiliki fasilitas septic tank memadai sehingga limbah rumah tangga dibuang langsung ke saluran air.
Saat musim hujan tiba, kawasan padat penduduk tersebut juga rawan mengalami genangan.
Pemerintah kecamatan bersama pihak kelurahan terus melakukan upaya penataan lingkungan melalui program kebersihan, perbaikan drainase, dan edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Warga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah untuk mempercepat penataan kawasan padat penduduk di Tambora, khususnya di RW 03 Kelurahan Angke dan Jembatan Besi, agar lingkungan menjadi lebih sehat, aman, dan nyaman untuk ditempati.
diprioritaskan pada wilayah dengan kepadatan tinggi, terutama Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Begitu pula dengan Kawasan seperti Tambora menjadi salah satu perhatian karena memiliki kompleksitas permukiman tinggi dan membutuhkan intervensi yang terukur (Tim)






