JAKARTA – Pengamat sosial dan penulis Jacob Ereste menilai nilai-nilai Pancasila semakin terdesak oleh berkembangnya paham kapitalisme, liberalisme, dan materialisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari maraknya praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga berbagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat.
Dalam pandangannya, keberadaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menggantikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dinilai belum mampu mengembalikan Pancasila sebagai ideologi dan pedoman hidup bangsa secara utuh.
Ia mempertanyakan sejauh mana implementasi nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Jacob menyoroti fenomena korupsi yang melibatkan pejabat tinggi negara, aparat penegak hukum, hingga pihak swasta yang berafiliasi dengan pemerintah.
Menurutnya, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik dan nilai-nilai moral yang seharusnya dijunjung tinggi.
Ia menilai banyak pelaku korupsi berasal dari kalangan terdidik dan memiliki jabatan strategis.
Namun, pendidikan dan status sosial dinilai belum mampu menjadi benteng moral apabila tidak disertai dengan penguatan nilai spiritual dan etika yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana tercantum dalam sila pertama Pancasila.
Lebih lanjut, Jacob berpendapat bahwa derasnya arus kapitalisme telah melahirkan budaya liberalisme yang menempatkan kepentingan materi sebagai orientasi utama kehidupan.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi mengikis semangat gotong royong, keadilan sosial, dan nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi Pancasila.
Ia pun mempertanyakan posisi Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia di tengah derasnya pengaruh ideologi global yang berorientasi pada materialisme.
Menurutnya, apabila nilai-nilai Pancasila tidak diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Pancasila hanya akan menjadi simbol tanpa daya menghadapi tantangan zaman.
Jacob mengibaratkan lemahnya implementasi Pancasila saat ini seperti “ayam sayur” yang hanya menjadi penonton di tengah pertarungan ideologi kapitalisme, liberalisme, dan materialisme yang semakin kuat memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia (Tim)






