Jakarta, Suara Investigasi.id. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pengerahan besar-besaran kekuatan militer di kawasan Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026).
Langkah ini dilakukan operasi yang disebut “Project Freedom” atau Proyek Kebebasan, dengan tujuan memperkuat akses pelayaran internasional di jalur strategis tersebut.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebutkan bahwa operasi ini melibatkan lebih dari 100 aset militer, termasuk pesawat tempur dan kapal perang dari Angkatan Udara serta Angkatan Laut AS.
Kehadiran kekuatan tersebut ditujukan untuk menjamin keamanan dan kelancaran navigasi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, yang menjadi titik vital distribusi energi global.
Ketegangan di wilayah ini meningkat seiring dengan dinamika hubungan antara Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Operasi ini juga dipandang sebagai upaya Washington untuk merespons situasi keamanan yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas jalur perdagangan internasional.
Hingga kini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai durasi maupun skala lanjutan dari operasi tersebut.
Di sisi lain, Iran sebelumnya telah menyampaikan sikap tegas terkait kehadiran militer asing di kawasan tersebut, sehingga perkembangan situasi di Selat Hormuz diperkirakan masih akan terus menjadi sorotan dunia internasional.(Tim)






