Jakarta – Suasana hangat mewarnai pertemuan silaturahmi antara sejumlah tokoh dan aktivis Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) Fadli Zon Library, Jalan Danau Limboto No. 96, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026) malam.
Pertemuan tersebut menjadi ajang mempererat persahabatan sekaligus membahas berbagai isu budaya, spiritualitas, dan kebangsaan.
Sebelumnya, para peserta turut berdiskusi mengenai peringatan satu tahun Perayaan Keyakinan Penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang digelar di kediaman Dr. Yudi Latif pada 19 Juli 2026.
Diskusi kemudian berlanjut di sebuah kedai kopi di kawasan Danau Limboto dengan pembahasan mengenai pentingnya penguatan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di tengah pertemuan, rombongan mendapat informasi bahwa Menteri Kebudayaan Fadli Zon akan datang ke perpustakaan untuk menerima tamu dari Bali yang ingin berkonsultasi terkait agenda kebudayaan. Kesempatan tersebut dimanfaatkan sejumlah anggota GMRI untuk bersilaturahmi secara langsung.
Tokoh Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, menyampaikan apresiasinya terhadap sikap Fadli Zon yang dinilainya tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat lama meski kini menjabat sebagai Menteri Kebudayaan.
Menurutnya, Fadli Zon menerima para tamu dengan suasana akrab dan terbuka tanpa kesan formal.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon juga berbagi pandangan mengenai sejarah dan filosofi keris sebagai salah satu warisan budaya Nusantara.
Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan keris pada masa lalu tidak hanya mengandalkan keterampilan, tetapi juga diiringi laku spiritual, doa, serta penghayatan batin para empu.
Fadli Zon Library dikenal memiliki koleksi yang cukup lengkap, meliputi sekitar 50.000 buku, naskah kuno, surat kabar tempo dulu, piringan hitam, perangko, koleksi keris, serta berbagai benda bersejarah lainnya yang menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Indonesia.
Selain berdiskusi, para peserta juga membahas rencana peluncuran buku “Kitab MA HA IS MA YA” yang ditargetkan berlangsung pada September 2026 sebagai bagian dari pengembangan pemikiran spiritual dan kebudayaan Nusantara.
Bagi para peserta, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi sekaligus bertukar gagasan mengenai pelestarian budaya, sejarah, dan nilai-nilai spiritual sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa (Tim)






