Jakarta, Suara Investigasi.id Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan mulai menyiapkan langkah besar dalam pengelolaan sampah menyusul rencana penghentian pengiriman sampah DKI Jakarta ke TPST Bantargebang pada tahun 2027.
Kebijakan tersebut mengikuti arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup yang menyebut tempat pengolahan sampah terbesar milik DKI Jakarta itu tidak lagi diperbolehkan menerima kiriman sampah mulai tahun depan.
Kepala Seksi Peran Serta Masyarakat Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Hendrik Mindo Sihombing, mengatakan pihaknya kini mulai mempercepat program pengurangan sampah dari sumbernya.
“Berdasarkan arahan Menteri Lingkungan Hidup pada 6 April 2026, TPST Bantargebang sudah tidak boleh menerima sampah DKI Jakarta pada 2027,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Sebagai langkah awal, Pemkot Jakarta Selatan menargetkan pengurangan volume sampah hingga 50 persen pada Agustus 2026.
Fokus utama diarahkan pada pengolahan sampah organik yang selama ini menjadi penyumbang terbesar timbunan sampah rumah tangga.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan mencapai 49,87 persen dari total sampah.
Jika ditambah sampah kayu dan ranting sekitar 3 persen, maka komposisi sampah organik disebut telah melebihi separuh total timbunan sampah di Jakarta Selatan.
Untuk mendukung target tersebut, Pemkot Jaksel menyiapkan sejumlah metode pengolahan sampah berbasis lingkungan dan masyarakat, seperti penggunaan biopori jumbo serta teba modern.
Biopori jumbo memanfaatkan wadah berukuran besar mulai dari ember bekas berkapasitas 30 hingga 120 liter yang digunakan secara komunal untuk mengolah sampah organik.
Sementara teba modern merupakan konsep pengolahan sampah berbasis kearifan lokal Bali berupa lubang komposter sedalam dua hingga tiga meter yang diperkuat beton dan dilengkapi penutup.
Melalui program tersebut, Pemerintah Kota Jakarta Selatan ingin mendorong konsep zero waste atau pengolahan sampah langsung dari lokasi asal sehingga sampah tidak lagi harus diangkut ke Bantargebang.
“Yang paling cepat penanganan sampah itu langsung selesai di tempat. Jadi enggak dibawa jauh-jauh lagi ke Bantar Gebang,” kata Hendrik (Tim)






