JAKARTA – Sejumlah warga mengeluhkan sistem penetapan desil yang digunakan pemerintah dalam menentukan kategori kesejahteraan masyarakat.
Mereka menilai data yang menjadi dasar penetapan desil tidak lagi sesuai dengan kondisi ekonomi yang saat ini mereka alami.
Keluhan tersebut muncul karena masih adanya pencatatan aset atau barang yang sebenarnya sudah lama tidak dimiliki.
Beberapa warga mengaku kepemilikan sepeda motor yang telah dijual bertahun-tahun lalu masih tercatat sebagai aset.
Begitu pula dengan barang rumah tangga seperti kulkas, televisi, hingga perhiasan yang telah dijual demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya pendidikan anak.
Menurut warga, data yang digunakan dalam penentuan desil diduga berasal dari pendataan beberapa tahun lalu sehingga tidak menggambarkan kondisi ekonomi terkini.
Akibatnya, sejumlah keluarga yang saat ini mengalami kesulitan ekonomi masih dianggap berada dalam kategori mampu.
“Dulu mungkin kondisi ekonomi keluarga masih cukup baik, tetapi sekarang sudah jauh berbeda.
Banyak aset yang sudah dijual untuk bertahan hidup, namun masih tercatat sebagai kekayaan,” ujar salah seorang warga.
Warga berharap pemerintah melakukan pembaruan data secara berkala dan lebih akurat dengan melibatkan verifikasi langsung di lapangan.
Dengan demikian, kondisi riil masyarakat dapat tergambar dengan baik dan bantuan sosial maupun program pemerintah dapat tepat sasaran.
Masyarakat juga menilai perubahan kondisi ekonomi seseorang bisa terjadi dalam waktu singkat akibat kehilangan pekerjaan, usaha yang menurun, atau meningkatnya kebutuhan keluarga.
Karena itu, data lama dinilai tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan untuk menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini.
Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat melakukan evaluasi terhadap mekanisme pendataan dan penetapan desil agar tidak menimbulkan ketidakadilan bagi warga yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Dengan pembaruan data yang lebih akurat, program perlindungan sosial diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang saat ini hidup dalam kondisi rentan dan miskin. (MT)






