JAKARTA – PT Graha Usaha Teknik (GUT) menegaskan komitmennya untuk mengambil peran strategis dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia di tingkat internasional.
Komitmen tersebut disampaikan perusahaan dalam ajang The 12th Indonesia EBTKE Conference & Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Dalam pameran tersebut, GUT mengusung tema “Powering Indonesia’s Energy Transition Through Reliable Solutions and Sustainable Innovation”.
Menurut perusahaan, transisi energi tidak hanya berfokus pada penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga menjadi peluang besar bagi industri nasional untuk berkembang dan menciptakan SDM yang memiliki kompetensi global.
Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional PT Graha Usaha Teknik, Kuswanto Rahayu, mengatakan percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan harus diiringi kesiapan industri dalam mengeksekusi berbagai proyek strategis secara profesional dan berkelanjutan.
“Transisi energi bukan hanya soal mengganti sumber energi. Tantangan utamanya adalah memastikan seluruh infrastruktur dapat dibangun, diintegrasikan dengan sistem kelistrikan, diuji, dioperasikan, dan dipelihara secara andal,” ujarnya.
Kuswanto menjelaskan, pengalaman perusahaan dalam bidang engineering, EPC, transmisi, gardu induk, sistem kelistrikan, hingga commissioning menjadi modal penting untuk mendukung pembangunan energi masa depan.
Pemerintah sendiri terus memperkuat arah transformasi energi nasional melalui berbagai regulasi.
Salah satunya Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan serta Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 mengenai Kebijakan Energi Nasional hingga tahun 2060.
Selain itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan mayoritas berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi.
Program tersebut diperkirakan mampu menciptakan lebih dari 1,7 juta lapangan kerja baru di berbagai sektor.
Direktur Teknis PT Graha Usaha Teknik, Abdul Hamid, menilai peluang tersebut harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.
“Yang terpenting bukan hanya jumlah tenaga kerja yang terserap, tetapi bagaimana mereka memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan standar kerja yang mampu meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa engineer dan teknisi Indonesia harus dipersiapkan agar mampu bekerja dengan standar internasional dan bersaing di pasar global.
Komitmen tersebut telah diwujudkan melalui keterlibatan tenaga profesional GUT dalam berbagai proyek internasional, di antaranya electrical commissioning pada Sondu Miriu Hydropower Plant di Kenya serta pekerjaan supply dan instalasi relay control panel untuk Loyang Substation di Singapura.
Sementara itu, Direktur Marketing PT Graha Usaha Teknik, Agung Sutiastoro, menyebut kebutuhan infrastruktur energi dunia yang terus meningkat membuka peluang besar bagi perusahaan nasional untuk memperluas pasar.
Menurutnya, perusahaan Indonesia harus mampu meningkatkan kualitas, teknologi, serta kompetensi agar dapat berdiri sejajar dengan perusahaan internasional.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi bagian dari pelaku yang ikut membangun dan menyediakan solusi bagi kebutuhan energi dunia,” ujarnya.
Di sisi lain, Direktur Keuangan PT Graha Usaha Teknik, Ambarlin Widanarti, menekankan bahwa transisi energi juga harus memberikan dampak ekonomi yang nyata.
Ia menilai keterlibatan perusahaan nasional dalam pembangunan sektor energi akan menciptakan efek berganda yang luas, mulai dari pertumbuhan industri pendukung, peningkatan investasi, hingga penyerapan tenaga kerja.
Dengan pengalaman dalam proyek pembangkit listrik, transmisi, gardu induk, energi terbarukan, serta layanan engineering dan commissioning di dalam maupun luar negeri, GUT optimistis dapat berkontribusi lebih besar dalam mendukung target transisi energi Indonesia.
Perusahaan memandang transisi energi sebagai momentum untuk memperkuat industri nasional, meningkatkan kualitas SDM, dan mendorong Indonesia memiliki posisi yang semakin kuat dalam industri energi global (Kipray)






